Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Antara Seni dan Pertanian


Setiap teori seni harus dimulai dengan anggapan bahwa manusia memberikan reaksi terhadap bentuk, massa dan permukaan dari benda-benda yang dilihatnya, dan bahwa komposisi dan penataan unsur-unsur tersebut menimbulkan rasa senang pada diri manusia. Itulah sekelumit kalimat yang mengungkapkan tentang seni. Kata "seni" adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Banyak para pakar dari berbagai Negara yang mengartikan seni secara berbeda-beda namun sebenarnya sama pada intinya. Unsur subjektif berdasarkan sudut pandang dan bagaimana serta dari arah mana mereka melihat sesuatu yang dianggap seni membuat pendefinisisan arti kata seni berbeda. Beberapa pengertian seni diartikan sbagai berikut, pengertian kata seni diambil dari Bahasa Inggris art, yang berakar pada kata Latin ars, yang berarti: "ketrampilan yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan atau proses belajar". Dari akar kata ini kemudian berkembang pengertian yang diberikan oleh kamus Webster sebagai berikut: "penggunaan ketrampilan dan imajinasi secara kreatif dalam menghasilkan benda-benda estetis." Menurut kamus Bahasa Indonesia seni diartikan sebagai Kecakapan membuat (menciptakan) sesuatu yang elok-elok atau indah. Sesuatu karya yang dibuat (diciptakan) dengan kecakapan yang luar bisaa seperti sajak, lukisan, ukiran-ukiran dsb. Merurut pendapat Aristoteles, seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan oleh gagasan tertentu. Pendapat dari “Bapak Pendidikan Indonesia”,Ki Hajar Dewantara, seni adalah indah, menurutnya seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya. Dari pendapat para ahli yang bergerak dibidangnya masing-masing tersebut dan berdasarkan informasi dari beberapa kamus dapat disimpulkan bahwa seni itu erat kaitannya dengan keindahan. Sesuatu yang dipandang indah secara general memiliki sense of art yaitu sesuatu yang membuat seseorang yang melihat, merasakan dan memikirkannya menjadi senang. Seni merupakan cipta rasa dan karsa manusia. Seni merupakan suatu tindakan kreatif menciptakan sesuatu sehingga muncul pnghayatan estetis dari pembuat maupun penikmat seni.
Dari definisi-definisi seni tersebut tampak bahwa ada tujuan dibalik diciptakannya sebuah karya seni yaitu sebuah keindahan. Namun tidak hanya itu saja tujuan seni, dalam penciptaanya fungsi dan tujuan seni yaitu fungsi religi atau keagamaan, fungsi pendidikan, fungsi komunikasi, fungsi rekreasi atau hiburan, fungsi artistic, fungsi guna (seni terapan) dan fungsi seni untuk kesehatan (terapi). Karya seni sebagi pesan religi atau keagamaan. Contoh : kaligrafi, busana muslim/muslimah, dan lagu-lago rohani. Seni yang digunakan untuk sebuah upacara yang berhubungan dengan upacara kelahiran, kematian, ataupun pernikahan. Contoh : Gamelan yang dimainkan pada upacara Ngaben di Bali yakni gamelan Luwang, Angklung, dan Gambang. Gamelan di Jawa Gamelan Kodhok Ngorek, Monggang, dan Ageng. Seni sebagai media pendidikan misalnya musik. Contoh : Ansambel karena didalamnya terdapat kerjasama, Angklung dan Gamelan juga bernilai pendidikan dikarenakan kesenian tersebut mempunyai nilai sosial, kerjasama, dan disiplin. Pelajaran menggunakan bantuan karya seni. Contoh : gambar ilustrasi buku pelajaran, film ilmiah atau dokumenter, poster, lagu anak-anak, alat peraga IPA. Seni dapat digunakan sebagai alat komunikasi seperti pesan, kritik sosial, kebijakan, gagasan, dan memperkenalkan produk kepada masyarakat. Melalui media seni tertentu seperti, wayang kulit, wayang orang dan seni teater, dapat pula syair sebuah lagu yang mempunyai pesan, poster, drama komedi, dan reklame. Seni yang berfungsi sebagai sarana melepas kejenuhan atau mengurangi kesedihan, sebuah pertunjukan khusus untuk berekspresi atau mengandung hiburan, kesenian yang tanpa dikaitkan dengan sebuah upacara ataupun dengan kesenian lain. Seni yang berfungsi sebagai media ekspresi seniman dalam menyajikan karyanya tidak untuk hal yang komersial, misalnya terdapat pada musik kontemporer, tari kontemporer, dan seni rupa kontemporer, tidak bisa dinikmati pendengar/pengunjung, hanya bisa dinikmati para seniman dan komunitasnya. Karya seni yang dibuat tanpa memperhitungkan kegunaannya kecuali sebagai media ekspresi disebut sebagai karya seni murni, sebaliknya jika dalam proses penciptaan seniman harus mempertimbangkan aspek kegunaan, hasil karya seni ini disebut seni guna atau seni terapan. Contoh : Kriya, karya seni yang dapat dipergunakan untuk perlengkapan/peralatan rumah tangga yang berasal dai gerabah dan rotan. Pengobatan untuk penderita gangguan physic ataupun medis dapat distimulasi melalui terapi musik, jenis musik disesuaikan dengan latar belakang kehidupan pasien. Terapi musik telah terbukti mampu digunakan untuk menyembuhkan penyandang autisme, gangguan psikologis trauma pada suatu kejadian, dan lain-lain. Menurut Siegel (1999) menyatakan bahwa musik klasik menghasilkan gelombang alfa yang menenangkan yang dapat merangsang sistem limbic jaringan neuron otak. Menurut Gregorian bahwa gamelan dapat mempertajam pikiran.
Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata)
Di dunia pertanian pun mucul nilai-nilai estetik yang akhir-akhir ini semakin berkembang. Nilai estetik tersebut muncul terkait semakin merebaknya kegemaran memelihara tanaman hias sebagai tanaman untuk menghiasi pekarangan maupun dalam ruangan. Usaha nursery semakin banyak bermunculan mulai dari sekedar menjalankan hobi sampai memang menjadi ladang penghasilan. Dengan menggabungkan potensi pertanian yang dimiliki oleh Indonesia dan sentuhan seni maka banyak tercipta tanaman hias yang beraneka bentuk dan menjadi sebuah tanaman hias yang berbeda dengan tanaman pada umumnya bahkan memiliki nilai jual tinggi. Aneka macam bunga dibudidayakan dan dikreasikan sesuai kreatifitas pemiliknya bisa menjadi tanaman bunga yang indah dan menawan seperi pada budidaya anggrek, bunga mawar, bunga kamboja dan bunga potong. Dengan penerapan ilmu-ilmu pertanian dan penerapan teknologi, aneka anggrek hasil persilangan dengan berbagai bentuk dan warna bermunculan dan menarik minat orang lain untuk memilikinya. Budidaya anggrek langka juga banyak diminati oleh para pecinta anggrek. Jika anggrek yang dibudidayakan dinyatakan langka maka setelah masuk ke pasaran harganya akan sangat melonjak naik hingga jutaan rupiah. Jumlah supplay yang terbatas dengan permintaan dari para penggemar anggrek langka yang banyak menyebabkan harganya bisa menjapai puluhan juta rupiah. Hal yang sama terjadi pada bunga mawar. Bunga mawar yang hanya bisa ditanam di pekarangan rumah kini pun bisa ditanam di dalam ruangan. Bunga yang dihasilkan lebih keil dengan pohon yang kecil pula. Tanaman ini lebih mirip bonsai mawar. Bunga mawar kerdil ini menjadi unik dan berbeda dengan bunga mawar pada umumnya sehingga menarik perhatian para penggemar mawar. Semakin unik sebuah tanaman maka peminatnya akan semakin banyak.
Bonsai Kamboja
Gelombang Cinta

Tanaman yang beberapatahun terakhir sangat gencar di bicarakan yaitu sindrom Adenium. Nama lain bunga Adenium ini adalah bunga kamboja jepang. Bunga kamboja memiliki warna bunga yang sangat cantik. Berbagai warna hasil persilangan dari berbagai varietas menghasilkan bungan yang cantik dan indah. Namun dengan sentuhan seni dan kreatifitas pecinta kamboja maka bunga kamboja pun tak hanya dilihat keindahannya dari sisi warna dan bentuk bunganya melainkan juga bonggol antara batang dengan akar yang dapat dibentuk sehingga berbentuk unik mirip dengan bonsai. Aneka bentuk bonggol dihasilkan mulai dari bentuk binatang melata seperti ular dan kadal, binatang amfibi seperti katak sampai bentuk burung pun bisa dibentuk. Bentuk bonggol yang meliuk-liuk menyerupai binatang menjadi nilai artistik tersendiri bagi pecinta kamboja. Harga dari kamboja yang sudah jadi seperti ini bisa menjadi jutaan rupiah per itemnya. Tanaman lain yang banyak diminati konsumen adalah Anthurium dan Aglaonema. Keduanya merupakan tanaman hias yang dinikmati keindahannya bukan karena bunganya melainkan daunnya. Tanaman Anthurium ini memiliki bentuk daun yang unik. Jenis anthurium yang terkenal diantaranya daun gelombang cinta dan jemani. Daun tanaman gelombang cinta besarnya bisa mencapai lebih dari 30 cm dengan pajang lebih dari 1 m. Bagian tepi daunnya bergelombang dan karena inilah tanaman gelombang cinta laku dipasaran. Tanaman yang sejenis yaitu Jemani memiliki karakteristik yang sama yaitu daunnya yang lebar tetapi tidak bergelombang pada tepi daunnya. Kedua jenis tanaman ini memiliki harga jual yang sangat tinggi jika ukurannya besar. Bibitnya pun mencapai harga puluhan ribu rupiah. Jenis tanaman Aglaonema memiliki corak daun dan warna daun yang bermacam-macam. Daunnya yang tidak begitu besar memiliki corak yang bermacam-macam dengan warna yang muncul dari daun tersebut membuat tanaman ini menjadi unik karena warna daun yang berbeda dengan tanaman yang lainnya. Daun tanaman ini bisa berwarna hijau, merah, putih ataupun merah jambu. Daun yang berwarna merah menyebabkan daun tanaman ini menyerupai bunga. Harga dipasaran juga cukup tinggi karena para pecinta Aglaonema masih mengincar corak dan warna dari daun Aglaonema yang lebih unik. Para petani yang mampu melihat peluang bahwa permintaan akan tanaman hias ada dan terus meningkat. Permintaan akan tanaman hias ini dipengaruhi oleh hobby seseorang, kepedulian seseorang terhadap ruangan untuk memberikan sesuatu yang indah sebagai penghias ruangan dan kecenderungan mengikuti trend yang bergejolak di masyarakat. Hal ini dimanfaatkan petani untuk menbuat suatu tanaman yang biasa menjadi sebuah tanaman yang unik, menarik, memiliki nilai estetik dan berdaya jual tinggi.
Tanaman Bonsai
Sebenarnya keterkaitan antara seni dengan pertanian sudah ada sejak dahulu. Kita sudah lama mengenal bonsai. Bonsai lebih dikenal sebagai tanaman kerdil yang terlihat indah dengan berbagai hasil penuangan karya seni dari manusia. Istilah bonsai ini muncul di jepang pada pemerintahan Kamakura (1192-1333) yang dicatat dalam Kasuga Srhire. Pada masa yang sama, sebuah ilustrasi tentang bonsai muncul dengan gambar yang terkenal milik seorang pendeta bernama Honen. Ilustrasi itu menggambarkan bonsai dibuat dengan tujuan memenuhi kepuasan penggemarnya. Pada masa itu pohon-pohon dikumpulkan berbagai lokasi, seperti pegunungan dan ladang, lalu dikerdilkan dan ditanam di pot. Meskipun kata “bonsai” berasal dari bahasa jepang, seni bonsai pertama kali muncul di Cina pada masa pemerintahan Dinasti Tsin (265-420) dan semakin marak pada masa Dinasti Tang (618-907). Pada masa Dinasti yuan (1280-1368) banyak pejabat, pelajar, dan pedagang dari Jepang yang membawa seni bonsai itu ke negerinya. Asal bonsai pertama kali nampak di China dengan sebutan penjing. Seni pemangkasan tanaman yang biasa disebut penjing oleh masyarakat China ini, sangat digemari oleh para pejabat kerajaan dimasa itu. Untuk pengembangan dari penjing sendiri, dilakukan oleh para biksu yang beragama Tao dimana tanaman ini merepentasikan salah satu pokok ajarannya yaitu tentang terciptanya keseimbangan serta keharmonisan manusia dengan alamnya. Untuk asal originalitas seni pemangkasan ini semua pihak sepakat bahwa China adalah asal asli teknik pemangkasan ini.
Bonsai eksis sebagai seni pemangkasan yang khusus ditujukan sebagai tanaman hias dengan keeksklusifitasan keindahannya untuk berusaha semaksimal mungkin menampilkan bentuk yang terlihat alamiah. Semakin terlihat alamiah sebuah tanaman bonsai, maka semakin bernilai lebih bonsai tersebut dengan tanpa mengurangi tajamnya kreatifitas manusia akan seni pemangkasan bonsai. Asas terpentingnya dari seni pemangkasan bonsai adalah timbulnya harmonisasi antara manusia dengan alam. Maksud sejati dari seni pemangkasan ini adalah dimana sang perawat tanaman mendapatkan sebuah kepuasan batiniah yang tak ternilai. Keesklusifan tanaman bonsai itu terlihat dikarenakan butuh sebuah suasana perawatan yang sangat khusus untuk merawat tanaman bonsai. Seiring perkembangannya seni pemangkasan bonsai untuk masa kini bonsai telah menjadi budaya bagi adat istiadat di Jepang. Dimana menjadi sebuah tradisi pemberian “tokonomo” sebagai ucapan selamat tahun baru. Tokonomo adalah sebutan dari masyarakat Jepang untuk tanaman yang telah dibonsai, yang mana pada umumnya mempunyai ketinggian tidak lebih dari 60cm. Sebagaimana tanaman yang mempunyai keindahan khusus, maka jangan mengira bahwa seni pemangkasan maupun perawatannya akan mudah. Membutuh suatu waktu kontiniutas yang cukup tinggi untuk memberikan hasil yang maksimal bagi sang bonsai. Bonsai yang berkualitas tidak hanya terlihat dari bentuk akar maupun bentuk batang. Seni perkembangan bonsai bukan hanya untuk didalam ruangan namun juga menjadi keindahan luar ruangan. Keadaan ini memaksa bonsai untuk mempunyai ketahanan tubuh.
Seni Ikebana
Terkait dengan kebudayaan Jepang maka salah satu tradisi yang erat kaitannya dengan penerapan nilai seni terhadap pertanian yaitu ikebana. Ikebana adalah seni merangkai bunga ala Jepang. Merangkai bunga Ikebana tidak hanya sekedar dan semudah menempatkan bunga-bunga kedalam vas (container), akan tetapi merupakan bentuk disiplin seni dimana merupakan rangkaian yang hidup yang menyatu antara kejiwaan manusia dengan alam sekitarnya, dengan kata lain Ikebana adalah sebuah philosofi untuk lebih mendekat dengan alam. Ikebana juga adalah sebuah ekspresi yang kreatif dalam bingkai aturan untuk membuat rangkaiannya. Materi yang digunakan antara lain ; ranting-ranting, daun-daun, bermacam-macam bunga dan rerumputan yang dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kombinasi warna, bentuk alamiah, dan lain-lain. Ikebana sebagai salah satu seni tradisional di Jepang sudah dikenal lebih dari 600 tahun yang lalu. Bermula sebagai acara ritual dari agama Budha dalam rangka memberikan persembahan bunga kepada arwah leluhur. Sejak sekitar pertengahan abad ke-15, Ikebana berubah statusnya dari yang sebelumnya sebagai symbol keagamaan menjadi bentuk seni yang bebas. Yang kemudian lambat laun sejalan dengan perjalanan waktu, tumbuh sekolah-sekolah Ikebana, terjadi perubahan style dan menjadi lebih sederhana untuk semua lapisan masyarakat Jepang.
Taman Bunga Nusantara
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) nomor tiga terbesar di dunia. Kekayaan alam yang melimpah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber plasma nutfah/genetik dan atau sebagai areal wisata. Demikian pula dengan kondisi tanah dan iklim yang beragam, peluang untuk mengembangkan berbagai komoditas pertanian pun semakin besar dengan menerapkan sistem pengelolaan lahan yang sesuai. Hal ini tercemin pada berbagai teknologi pertanian lokal yang berkembang di masyarakat dengan menyesuaikannya dengan tipologi lahan. Keunikan - keunikan tersebut merupakan aset yang dapat menarik bangsa lain untuk berkunjung/berwisata ke Indonesia. Agrowisata merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek wisata. Tujuannya adalah untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, kita bisa meningkatkan pendapatan petani sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal (indigenous knowledge) yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya. Pemilik agrowisata memiliki sense of art yang tinggi sehiangga mampu menciptakan sebuat tempat wisata dengan memanfaatkan usaha pertanian sehingga menjadi objek wisata yang menyenagkan. Beberapa tempat seperti Taman Bunga Nusantara di Cianjur memiliki banyak koleksi bunga yang diatur sedemikian rupa sehingga menjadi tempat wisata yang sangat menarik ditunjang dengan keindahan bunga yang berwarna-warni. Taman Bunga Nusantara (TBN) memiliki beragam koleksi bunga untuk iklim tropis maupun untuk iklim dingin, bahkan tidak hanya bunga yang berasal dari Indonesia, bunga yang berasal dari seluruh dunia pun ada. Selain menyegarkan mata, kita juga akan mendapatkan banyak wawasan baru mengenai bunga. Contoh lainnya lagi adalah Taman Wisata Mekarsari di Cileungsi yang menyajikan beraneka macam tanaman buah tropika yang berasal dari Indonesia dan Asia. Pengunjung disuguhi koleksi tanaman buah-buahan tropika yang mungkin jarang ditemui di Indonesia. Pengunjung tempat ini juga dapat menikmati wisata petik buah langsung.
Hasil-hasil karya tersebut merupakan sebuah kolaborasi antara seni dengan pertanian sehingga menciptakan nilai tambah dan nilai guna dari suatu komoditi pertanian. Kolaborasi keduanya menciptakan sebuah keindahan yang berpotensi untuk bisnis. Suatu komoditi pertanian yang telah mengalami sentuhan seni dan kekreatifitasan petani mampu meningkatkan nilai jual suatu komoditas karena keunikannya dan juga meningkatkan nilai estetiknya. Pertanian yang dianggap “jorok” setidaknya akan terhapuskan karena tidak selamanya pertanian itu berada di tempat yang kotor tetapi pertanian pun bisa menghasilkan suatu karya seni yang mahal. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Potensi Agribisnis Ikan Gurame

Ikan Gurame
Pembahasan mengenai sektor perairan di Indonesia tidak dapat terlepas dari salah satu sumberdaya hayati yang terkandung didalamnya, yaitu sumberdaya perikanan. Sektor perikanan Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dan beragam, sehingga sektor perikanan dapat dijadikan salah satu sektor pembangunan yang berbasis sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan. Pembangunan sektor perikanan sebagai salah satu bagian intergral pembangunan sektor pertanian diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi.
Potensi sektor perikanan di indonesia berasal dari perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Data produksi perikanan Indonesia dari tahun 2001-2007 menunjukkan bahwa sektor produksi perikanan tangkap memiliki kontribusi yang cukup besar. Jumlah produksi perikanan tangkap jauh berbeda dengan perikanan budidaya. Produksi ikan di Indonesia dari sektor penangkapan mencapai 70 % dari total produksi perikanan di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perikanan banyak berkembang di daerah pantai dengan profesi masyarakat pada umumnya sebagai nelayan. Jumlah produksi ikan budidaya masih kalah dengan perikanaan tangkap. Hal ini dikarenakan proses budidaya membutuhkan waktu yang lama dan perawatan yang intensif sedangkan perikanan tangkap hanya mengandalkan hasil tangkapan di laut. Total produksi perikanan di Indonesia dari tahun 2001-2007 ini mengalami peningkatan setiap tahunnya. Rata-rata peningkatan setiap tahunnya sebesar 7 persen. Peningkatan jumlah produksi perikanan di Indonesia ini diiringi dengan peningkatan produksi perikanan tangkap sebesar 2 persen dan peningkatan rata-rata produksi perikanan budidaya yang mencapai 20 persen. Dari hasil analisa tersebut dapat diketahui bahwa peningkatan rata-rata produksi ikan budidaya lebih besar dibandingkan dengan peningkatan rata-rata produksi perikanan taangkap. Peningkatan rata-rata produksi perikanan tangkap ini dipengaruhi oleh semakin meningkatnya minat masyarakat untuk melakukan usaha budidaya perikanan.
Tabel 1. Data Produksi Perikanan Indonesia tahun 2001-2007
Tahun
Produksi
Total
Budidaya
Penangkapan
(Ton)
(Ton)
2001
1.076.750
4.267.720
5.344.470
2002
1.137.153
4.378.495
5.515.648
2003
1.224.195
4.691.796
5.915.991
2004
1.468.610
4.651.121
6.119.731
2005
2.163.674
4.705.868
6.869.542
2006
2.682.596
4.769.160
7.451.756
2007
3.088.800
4.940.000
8.028.800
Sumber: Departemen Kelautan dan Perikanan 2008 
          Menurut Media Indonesia (Rabu, 04 April 2007), Potensi produksi perikanan Indonesia mencapai 65 juta ton per tahun. Dari potensi tersebut hingga saat ini dimanfaatkan sebesar 9 juta ton. Namun, potensi tersebut sebagian besar berada di perikanan budidaya yang mencapai 57,7 juta ton per tahun dan baru dimanfaatkan 2,08%. Sedangkan potensi perikanan tangkap (laut dan perairan umum) hanya sebesar 7,3 juta ton per tahun dan telah dimanfaatkan sebesar 65,75%. Dilihat dari data tersebut menunjukkan bahwa potensi perikanan budidaya sangatlah besar tetapi baru dimanfaatkan sangat kecil sekali tidak sebanding dengan potensi yang mampu dihasilkan. Produksinya pun masih jauh berbeda dengan perikanan tangkap.
Salah satu kegiatan perikanan budidaya adalah budidaya ikan air tawar. Pembudidayaan ikan air tawar biasanya dilakukan di kolam, empang atau tambak. Jenis ikan air tawar yang populer di Indonesia diantaranya adalah ikan lele, ikan gurame, ikan mujair, ikan nila dan ikan bawal. Ikan gurame merupakan jenis ikan air tawar yang paling unggul dibandingkan jenis ikan tawar lainnya, seperti ikan mas, tawes, nila atau mujair. Salah satu keunggulanya adalah rasanya yang enak, sehingga banyak digemari konsumen ikan air tawar. Selain itu, harganya tinggi dan paling mahal, namun permintaannya pun tinggi. Permintaan terhadap ikan gurame datang dari kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Harga jual ikan gurame cenderung stabil dan terus meningkat. (Perdana, 2007). Ikan gurame termasuk ikan yang lambat pertumbuhannya. Namun, dikarenakan harganyaa yang dapat dikatakan masih mendominasi pasaran dibandingkan dengan jenis ikan tawar lain, pada umumnya para pembudidaya ikan tidak terlalu mempermasalahkan pertumbuhannya yang lambat (Susanto, 2002).
Produksi ikan gurami di Indonesia dalam tiga tahun terakhir mengalami kenaikan berturut-turut dari 9.004 ton, 9.327 ton dan 13.339 ton masing-masing untuk tahun 1998,1999 dan 2000. Peningkatan produksi ini menunjukkan adanya permintaan gurame yang meningkat dan semakin banyak masyarakat yang berminat membudidayakan ikan gurame. Produksi ikan gurami terbesar ada di Pulau Jawa, dengan proporsi produksi lebih dari 70% dari produksi nasional. Adapun provinsi yang menghasilkan ikan gurami terbesar adalah provinsi Jawa Tengah dengan jumlah produksi sebesar 4.594 ton pada tahun 2000. Sedangkan provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat berturut-turut menghasilkan ikan gurami sebanyak 2.616 ton dan 2.317 ton (http://sipuk.bi.go.id).
Tabel 2. Produksi Ikan Gurami dari Kolam di Indonesia di beberapa Provinsi di pulau Jawa (dalam ton)
No
Provinsi
Tahun
1998
1999
2000
1
DKI Jakarta
223
214
252
2
Jawa Barat
2019
1979
2317
3
Jawa Tengah
2962
2588
4597
4
DI Yogyakarta
110
163
476
5
Jawa Timur
1888
1822
2616
Ikan Gurame
Ikan gurame (Osphoronemus gouramy ) termasuk dalam kelompok ikan air tawar. Ikan ini memiliki nilai ekonomis penting dan telah dibudidayakan sebagaimana jenis ikan ekonomis lainnya, seperti ikan mas, lele, nilem, patin, tambakan, nila, tawes, jelawat, udang galah dan lobster air tawar (Saparinto, 2008).
Ikan Gurame
Klasifikasi ikan gurame adalah sebagai berikut (Sitanggang dan Sarwono, 2002; Saparinto, 2008):
Filum                   : Chordata
Kelas                   : Pisces
Sub-kelas             : Teleostei
Ordo                    : Labyrinthici
Sub-ordo             : Anabantoidea
Famili                  : Anabantidae
Genus                  : Osphronemus
Spesies                 : Osphronemus gouramy
Gurame tersebar ke seluruh kepulauan di Indonesia dan negara tetangga sebagai ikan budidaya yang berasal dari Jawa. Di Jawa budidaya ikan gurame sudah lama akrab di kalangan penduduk pedesaan. Budidaya gurame untuk menghasilkan benih maupun ikan konsumsi telah tersebar luas di Jawa Barat (Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Parung, Bogor, Cipanas, Indramayu), Jawa Tengah (Purwokerto, Magelang, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas), Jawa Timur (Kediri, Tulung Agung, Blitar), Bali (Karang Asem). Di Sumatera budidaya gurame berkembang di Mungo dekat Payakumbuh (Sumatera Barat). Di Sulawesi berkembang di Airmadidi dekat Menado (Sulawesi Utara) (Sitanggang dan Sarwono, 2002; Saparinto,2008).
Gurame memiliki banyak nama daerah, antara lain gurameh (Jawa Tengah dan Yogyakarta), gurame (Jakarta dan Jawa Barat), kalui (Jambi), kaluih (Sumatera Barat), kali (Palembang dan Kalimantan). Sementara nama asingnya yaitu giant gouramy karena ukurannya yang besar hingga bobotnya mencapai 5 kg lebih (Saparinto,2008).
            Peternak gurame di Bogor membedakan ada 6 macam varietas atau strain gurame berdasarkan daya produksi telur, kecepatan tumbuh, ukuran atau bobot maksimal gurame dewasa. Masing-masing adalah angsa (soang, geese gourami), jepun (jepang, japonica), blue safir, paris, bastar (pedaging) dan porselen. Empat terakhir banyak dikembangkan di Jawa Barat. Bagi orang awam sulit membedakan tiap-tiap varietas tersebut. Selain enam strain tersebut, berdasarkan warna terdapat gurame hitam, albino (putih), dan belang. Gurame hitam paling banyak dijumpai, yang lain jarang. Gurame albino dan belang kurang disukai, karena sangat lambat tumbuh (Sitanggang dan Sarwono, 2002). Gurame soang merupakan gurame yang diduga asli dari Indonesia. Gurame soang memiliki keunggulan pada pertumbuhannya yang lebih cepat besar dan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan gurame jenis lain (Saparinto,2008).
Sitanggang dan Sarwono (2002) menyebutkan bahwa di alam, gurame mendiami perairan yang tenang dan tergenang seperti rawa-rawa, situ dan danau. Di sungai yang berarus deras, jarang dijumpai gurame. Kehidupannya yang menyukai perairan bebas arus itu terbukti, ketika gurame sangat mudah dipelihara di kolam-kolam tergenang. Gurame dapat hidup di sungai, rawa, telaga dan kolam air tawar. Gurame dapat menyesuaikan diri pada air yang agak payau dan agak asin. Namun menurut Saparinto (2008), meskipun mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan, gurame lebih cocok hidup di perairan tawar. Perairan paling optimal untuk budidaya adalah terletak pada ketinggian 50-400 meter diatas permukaan laut. Ikan ini masih bertoleransi sampai pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Suhu ideal untuk gurame adalah 240-280 C. Kedalaman air ideal antara 70-100 cm supaya sinar matahari dapat menyentuh dasar kolam sehingga lapisan yang subur dapat berkembang. Untuk suatu kolam budidaya yang produktif, pH terbaik adalah antara 6,5-8 (Sitanggang dan Sarwono, 2002). Gurame memiliki kepekaan yang rendah terhadap senyawa-senyawa beracun di dalam air. Kebanyakan ikan air tawar akan mati pada kadar karbondioksida (CO2) terlarut sebesar 15 ppm tetapi ikan gurame masih bisa bertahan pada kadar karbondioksida terlarut 100 ppm (Saparinto,2008).
Pertumbuhan ikan gurame sangat lambat jika dibandingkan jenis-jenis ikan budidaya lainnya seperti tombro (ikan mas), lele, dan nila. Pertumbuhan gurame sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan (strain), kesehatan, pakan, ruang hidup dan umur (waktu) (Sitanggang dan Sarwono, 2002). Sedangkan menurut Saparinto (2008) pertumbuhan gurame dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam di antaranya keturunan (genetik), seks, umur, serta parasit dan penyakit. Sementara faktor luar yang berpengaruh secara dominan adalah pakan, suhu perairan dan faktor kimia perairan. Hal-hal tersebut menjadi perhatian utama dalam pemeliharaan ikan gurame supaya mendapatkan ikan gurame yang memiliki kualitas baik.
            Menurut Saparinto (2008) gurame termasuk ikan pemakan segala (omnivora). Larva gurame yang masih kecil memakan binatang renik yang hidup sebagai perifiton. Namun benih gurame lebih menyenangi larva serangga, crustaceae, zooplankton, dan cacing sutra. Setelah besar, gurame berkecenderungan menjadi pemakan dedaunan dari tumbuhan air. Pakan dan kebiasaan makan gurame bisa berubah sesuai dengan keadaan lingkungan hidupnya. Dalam lingkungan yang berbeda, ikan lebih bergantung atau berkorelasi dengan ketersediaan makan.
Setiap hari induk-induk gurame dapat diberi pelet dan daun-daunan segar sabagai makanan pokok. Pemberian pakan per hari kurang lebih 10% dari berat badan total. Pakan paling ideal untuk pertumbuhan ikan adalah berkadar protein 40%. Macam-macam daun yang dapat diberikan kepada gurame adalah daun pepaya (Carica papaya), keladi (Colocasia esculenta), ketela pohon (Manihot utilissima), genjer (Limnocharts flava), kangkung (Ipomea reptans), ubi jalar (Ipomea batatas), ketimun (Cucumis sativus), labu (Curcubita moschata), dan dadap (Erythrina) (Sitanggang dan Sarwono, 2002).
            Ikan gurame juga memiliki kebiasaan makan yang lebih menyukai sifat yang cenderung ke arah aktif pada kondisi menjelang gelap. Ikan gurame juga menyukai pakan yang berada di permukaan (Badan Riset Kelautan dan Perikanan, 2003)
Pembesaran ikan gurame dari benih sampai menjadi ikan konsumsi dapat dilakukan di kolam khusus, kolam campuran, maupun kolam campuran terpadu (Sitanggang dan Sarwono, 2002). Masing-masing kolam memiliki kriteria tersendiri dalam pemeliharaannya.
Pembesaran Gurami di Kolam Khusus (Monokultur)
Menurut Sitanggang dan Sarwono (2002) pembesaran ikan gurame pada kolam khusus dilakukan tersendiri tanpa dicampur ikan jenis lain. Benih yang ditaanam sudah cukup besar, berumur sekitar dua bulan dengan panjang sekitar 10-15 cm. Namun ukuran benih ini juga menyesuaikan dengan jumlah benih yang ditebar dalam kolam. Kolam dengan luasan sebesar 1400 m2 diperlukan benih tebar sebanyak 500 ekor dengan ukuran 8-11 cm, atau 400 ekor dengan ukuran benih berukuran 14-18 cm, atau 300 ekor jika ukuran benih 20-25 cm.
Pembesaran ikan gurame pada kolam khusus biasanya kurang menguntungkan dikarenakan pertumbuhannya yang agak lambat (Sitanggang dan Sarwono, 2002). Pertumbuhan yang agak lambat ini akan memperlambat pula masa panen ikan untuk konsumsi rumah tangga sehingga dinilai kurang menguntungkan. Namun menurut Saparinto (2008) dengan sistem monokultur, budidaya dapat lebih terkonsentrasi hanya pada satu ikan saja, padat penebaraan lebih optimal, dan pertumbuhan gurame tidak terganggu ikan lain.
Pembesaran Ikan Gurame di Kolam Campuran (Polikultur)
            Di kolam campuran, ikan gurame bisa dipelihara bersama ikan lain seperti tawes (Puntius gonionotus), ikan mas (Cyprinus carpio), tambakan (Helostoma teminciki), nilem (Osteochilus hasselti), mujair (Tilapia nilotica) atau lele (Clarias batrachus) (Sitanggang dan Sarwono, 2002). Menurut petani Jawa Barat dalam Sitanggang dan Sarwono (2002) menyebutkan bahwa pemeliharaan ikan gurame bersama dengan ikan konsumsi lain lebih menguntungkan dibanding pada kolam khusus. Kombinasi budi daya gurame dengan ikan mas dan tambakan akan memberikan nilai tambah karena sifat makan ketiga jenis ikan ini berbeda. Kotoran gurami dapat memupuk perairan sehingga plankton akan tumbuh subur dan menjadi santapan lezat bagi tambakan, sedangkan kotoran gurame dapat dimakan langsung oleh ikan mas. Berdasarkan hasil percobaan, kombinasi campuran ikan gurame dengan nila, ternyata tidak menguntungkan bagi pertumbuhan gurame. Semakin banyak nila di sekitar gurame, semakin berkurang kecepatan tumbuh gurame. Sementara kombinasi antara ikan gurame, ikan mas dan tambakan ternyata lebih efisien karena sifat makan masing-masing jenis ikan berbeda.
            Namun dalam melakukan pembudidayaan secara polikultur ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu ikan yang hendak dibudidayakan bersama gurame bukan ikan yang rakus dan bukan karnivora (pemakan daging). Ikan yang rakus makannya akan menjadi kompetitor gurami dalam mendapatkan pakan. Sementara aikan predator dapat menjadi pemangsa gurame. Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah ikan yang dibudidayakan mempunyai tingkat pertumbuhan yang sama. Jangan sampai beberapaa jenis ikan mendominasi pakan karena ukuran tubuhnya lebih besar (Saparinto,2008).
Pembesaran Ikan Gurame di Kolam Campuran Terpadu
Menurut Sitanggang dan Sarwono (2002) pemeliharaan gurame di kolam campuran terpadu adalah membesarkan gurame dan beberapa jenis ikan lain bersama hewan lain seperti itik, ayam, domba, kelinci atau sapi. Kandang ternak dibangun di atas kolam pemeliharaan ikan. Usaha seperti ini dapat diperluas lagi keterpaduannya dengan usaha penanaman tumbuh-tumbuhan konsumsi yang dapat tumbuh subur pada tanah yang berair, misalnya kangkung dan genjer. Tumbuh-tumbuhan ini selain bisa dikonsumsi dapat bermanfaat pula sebagai bahan pakan ikan. Sedangkan kotoran ikan dapat menjadi pupuk bagi tanaman tersebut. Ada timbal balik yang saling menguntungkan, sekaligus hasil yang diperoleh berlipat ganda dari lahan yang tidak terlalu luas.

Sumber:
  • Perdana, Aditya Novian. 2007. Analisis Kelayakan Usaha Secara Partisipatif pada Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Gurame: Studi Kasus Kelompok Tani Tirta Maju Desa Situ Gede [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
  • Saparinto, Cahyo. 2008. Panduan Lengkap Gurami. Jakarta: Penebar Swadaya.
  • Sitanggang, M. , B. Sarwono. 2002. Budidaya Gurami. Jakarta: Penebar Swadaya.
  • Susanto, Heru. 2002. Budidaya Ikan di Pekarangan. Jakarta: Penebar Swadaya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS