Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Agribisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agribisnis. Tampilkan semua postingan

Agribisnis Akar Wangi



Peluang Bisnis Akar Wangi

Gambar 1. Tanaman Akar Wangi

Sepintas jika kita melihat gambar diatas yang muncul dalam pikiran kita adalah hanya rumput ilalang yang tumbuh subur di padang luas. Mungkin juga ada yang beranggapan itu merupakan tanaman serai. Akan tetapi, itu bukanlah rumput atau tanaman serai. Tanaman tersebut merupakan tanaman akar wangi. Akar wangi (Vetiveria zizanioides) merupakan jenis rerumputan yang dapat digunakan untuk menghasilkan minyak atsiri. Penampakan fisiknya menyerupai rumput atau tanaman serai karena tumbuhan ini memang masih sekeluarga dengan serai atau padi.
Sesuai dengan namanya, bagian dari tanaman ini yang dimanfaatkan adalah akarnya. Akarnya yang dikeringkan secara tradisional dikenal sebagai pengharum lemari penyimpan pakaian atau barang-barang penting, seperti batik dan keris dan juga bahan pembuatan kerajinan seperti tas, cup lampu, dan taplak meja. Selain dikeringkan dan dimanfaatkan secara langsung, akar tanaman ini juga dapat diproses dengan penyulingan untuk menghasilkan minyak atsiri. Minyak atsiri ini dapat digunakan sebagai bahan kosmetik seperti untuk parfum, obat-obatan, dan aroma terapi. Hasil penyulingan akar wangi dalam bentuk minyak atsiri ini juga merupakan salah satu komoditas ekspor yang sangat menjanjikan. Indonesia merupakan eksportir minyak akar wangi terbesar ke dua setelah Haiti. Peluang pasar untuk minyak atsiri dari akar wangi ini masih terbuka lebar mengingat posisi Indonesia hanya mampu memenuhi permintaan minyak akar wangi di dunia sebesar 50 ton/tahun dari total permintaan dunia sebesar 250 ton/tahun.
Tanaman akar wangi dapat dibudidayakan dengan baik di iklim tropis seperti di Indonesia ini. Tanaman akar wangi dapat tumbuh pada lahan dengan ketinggian 500-1500 m dpl dengan curah hujan 1500-2500 mm per tahun dan suhu udara lingkungan 17-270 C. Salah satu sentra budidaya akar wangi di Indonesia berada di Kabupaten Garut. Tanaman akar wangi ini menjadi salah satu tanaman unggulan Kabupaten Garut. Tak heran jika di Kabupaten Garut ini banyak dibudidayakan tanaman akar wangi. Usaha akar wangi ini telah menjadi bagian mata pencahariaan penduduk di Kabupaten Garut terutama untuk 5 kecamatan penghasil akar wangi terbesar yaitu di Kecamatan Samarang, Kecamatan Bayongbong, Kecamatan Cilawu, Kecamatan Pasir Wangi  dan Kecamatan Leles.
Salah satu usaha pembudidayaan dan penyulingan akar wangi di Kabupaten Garut berlokasi di kampung Lebok Pulus Jalan Raya Kamojang, Sukakarya Kecamatan Samarang. Pemilik dari usaha ini adalah Bapak H. Ede Kadarusman. Usaha akar wangi yang dibudidayakan oleh H. Ede di Daerah Garut Jawa Barat ini  menghasilkan produk utama yaitu akar wangi kering, minyak atsiri sebagai hasil penyulingan, dan menghasilkan produk turunan dari akar kering berupa kerajinan yaitu tas, tikar, taplak meja, dan bahan rajutan lainnya. Semua produk tersebut bernilai jual yang tinggi terutama minyak atsiri dari hasil penyulingan akar wangi.
Dalam melakukan kegiatan budidaya, H. Ede menggunakan lahan tak kurang dari 20 hektar. H. Ede menggunakan bibit akar wangi yang diimpor langsung dari Belanda. H. Ede sengaja mendatangkan bibit akar wangi dari Belanda untuk menghasilkan tanaman yang berkualitas baik sehingga dapat menghasilkan minyak akar wangi dengan kualitas yang baik pula. Dari satu hektar lahan budidaya akar wangi milik H. Ede tersebut mampu menghasilkan akar basah sebesar 10-14 ton. Menurut H. Ede Perawatan budidaya tanaman akarwangi juga relatif lebih mudah seperti tanaman pada umumnya. Tetapi ada beberapa perlakuan khusus diantaranya dalam proses pemupukan tidak menggunakan urea karena urea dapat merangsang pertumbuhan daun sehingga pertumbuhan akar akan terbatas. Selain itu diperlukan juga kegiatan pemangkasan supaya pertumbuhan tanaman terkonsentrasi di akar. Tanaman akar wangi ini hampir sama dengan tanaman alang-alang yaitu relatif lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit sehingga pengendaliannya jarang dilakukan.
Umur panen tanaman akar wangi cukup singkat yaitu 8 bulan, namun untuk memperoleh jumlah akar yang maksimum dan mutu minyak yang tinggi maka pemanenan dilakukan setelah tanaman mencapai umur 14 bulan – 16 bulan. Pemanenan cukup mudah dengan cara mencangkul dan mencabut akar yang menempel di tanah. Bonggol dapat dipotong dengan alat pemotong secara manual dengan golok atau dengan menggunakan mesin pemotong (perajang). Bonggol ini dapat digunakan kembali sebagai bibit untuk musim tanam selanjutnya. Setelah dibersihkan dari tanah yang melekat pada akar maka selanjutnya akar tersebut dijemur hingga kering. Pengeringan dilakukan di atas lantai penjemur yang diberi alas tikar, atau bambu anyam dengan ketebalan 20-30 cm. Penjemuran dilakukan dari jam 09.00-14.00 dan dibolak-balik sebanyak 2-3 kali selama kurang lebih 2 hari. Penjemuran telah selesai jika menghasilkan akar wangi kering dengan kadar air 15%. Akar yang telah kering harus segera disuling supaya kadar minyak dalam akar tidak berkurang. Jika tidak segera disuling, akar wangi dikemas dalam karung plastik dan ditutup rapat, kemudian disimpan dengan cara ditumpuk dalam gudang yang tidak tembus cahaya matahari, tidak lembab, suhu 20-300C, dan letaknya jauh dari ketel suling.

Gambar 2. Akar Wangi Kering

Proses penyulingan juga masih menggunakan teknologi yang sederhana yaitu melelui proses destilasi dengan memanfaatkan hasil pembakaran akar wangi dalam ketel raksasa. Sebelum akar masuk dalam ketel, akar yang sudah kering harus dirajang terlebih dahulu. Tujuan perajangan akar adalah untuk mengurangi sifat kamba akar dan mempermudah keluarnya minyak dari dalam akar. Merajang akar wangi dapat dilakukan dengan golok atau dengan mesin khusus perajang akar, dengan panjang sekitar 10-15 cm. Akar setelah dirajang harus segera dimasukkan ke dalam ketel suling untuk menghindari penguapan minyak dari bagian akar yang dipotong. Kapasitas ketel bisa mencapai satu ton akar wangi kering. Ketel tersebut kemudian dibakar dengan temperatur tinggi bertekanan rendah. Gas panas hasil pembakaran tersebut kemudian dialirkan ke dalam pipa dan mengalami proses destilasi sehingga diperoleh uap berupa campuran minyak dan air. Campuran minyak dan air ini ditampung di bak penampung. Untuk memisahkan komponen minyak dan air ini diperlukan saringan. Setelah disaring untuk memisahkan air dan minyak maka diperolehlah minyak murni hasil penyulingan akar wangi. Akar wangi yang sudah dikeringkan memiliki rendemen sebesar 0,2-0,5 % sehingga setelah dilakukan proses penyulingan dalam 1 ton akar kering mampu menghasilkan 2-5 kg minyak atsiri.

Gambar 3. Ketel Penyulingan

Kualitas minyak atsiri yang dihasilkan belum tentu bisa mencapai kualitas premium yang dapat menembus pasar ekspor. Kualitas minyak atsiri yang dihasilkan dipengaruhi oleh kualitas tanaman. Selain itu, kualitas hasil penyulingan minyak atsiri dari akar wangi juga dipengaruhi oleh proses penyulingan. Proses destilasi dengan waktu singkat (12-13 jam) dengan menggunakan tekanan tinggi (5 bar) menghasilkan minyak yang keruh dengan wangi seperti masakan gosong, sedangkan proses destilasi dengan waktu yang lebih lama (18-20 jam) dengan tekanan rendah dibawah 2 bar mampu menghasilkan minyak atsiri yang bening dan wanginya lembut. Minyak yang seperti inilah yang banyak diminta pada pasar ekspor.

Gambar 4. Penyaringan Minyak

H Ede menjual akar wangi dalam bentuk akar basah, minyak atsiri dan kerajinan dari akar kering. Akar basah panen akar wangi dijual dengan harga Rp 2000-Rp 3000/kg. Sedangkan harga minyak atsiri bervariasi tergantung dengan kualitasnya. Untuk minyak dengan kualitas sedang harganya berkisar Rp 1.000.000,00/kg sedangkan minyak dengan kualitas yang baik harga berkisar Rp 1.700.000,00/kg. Harga produk turunan berupa kerajinan juga bervariasi dari puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah tergantung ukuran, desain, dan tingkat kesulitan pembuatan.

Gambar 5. Produk Kerajinan Akar Wangi

Daerah pemasaran untuk produk berupa akar kering yaitu kota-kota di Jawa dan Bali seperti Pekalongan, Semarang dan Denpasar. Permintaan di daerah tersebut cukup tinggi karena daerah tersebut merupakan pusat pembuatan kerajinan dan daerah tujuan wisata. Untuk  daerah pemasaran barang kerajinan, H. Ede memanfaatkan pasar lokal yaitu pasar pusat kerajinan di Rajapolah, Tasikmalaya dan menjualnya secara langsung di galerinya. Sedangkan untuk minyak atsiri semuanya diekspor ke beberapa Negara di Amerika, Eropa, dan Asia.
Pemanfaatan tanaman akar wangi tidak hanya sebatas pada akarnya saja tetapi limbah daun dan serat sisa penyulingan juga dapat dimanfaatkan. Pada saat pemanenan akar wangi hanya diambil bagian akarnya saja sedangkan daunnya tidak digunakan. Daun tersebut lantas tidak dibuang begitu saja melainkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan membuat pupuk hijau. Pupuk ini akan dipakai pada saat pengolahan tanah sebelum akar wangi ditanam. Akar wangi yang telah mengalami proses penyulingan menghasilkan limbah berupa serat akar. Serat akar ini dapt dimanfaatkan untuk pembuatan kerajinan seperti pembuatan cup lampu dan pot hias. Struktur serat yang mirip dengan akar pakis dapat dimanfaatkan untuk media tanam tanaman bunga seperti bunga anggrek.
Dapat dilihat bahwa produk akar wangi ini memiliki nilai ekonomi yang cukup baik sehingga berpotensi tinggi untuk dikembangkan di Indonesia. Peluang pasar untuk minyak atsiri dari akar wangi ini masih terbuka lebar mengingat posisi Indonesia hanya mampu memenuhi permintaan minyak akar wangi di dunia sebesar 50 ton/tahun dari total permintaan dunia sebesar 250 ton/tahun. Permintaan akan minyak atsiri dari akar wangi ini diprediksi akan semakin meningkat karena pertumbuhan ekonomi yang menyebabkan pertumbuhan industri yang sekin pesat. Minyak atsiri dari akar wangi yang dihasilkan oleh Indonesia merupakan terbaik kedua setelah negara Haiti. Daerah sentra akar wangi di Indonesia masih sedikit sehingga merupakan peluang yang sangat besar untuk memasuki dunia usaha yang serupa. Kondisi agroklimat di Indonesia sebagai negara tropis cocok untuk pembudidayaan tanaman ini. Produk minyak akar wangi memiliki nilai jual yang sangat tinggi sehingga mampu memberikan keuntungan bagi pengusaha akar wangi. Hampir semua bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan sehingga usaha akar wangi tidak hanya terfokus pada pembuatan minyak saja melainkan masih banyak usaha untuk pembuatan produk turunan akar wangi seperti aneka barang kerajinan.

Sumber:
Hasil Kunjungan Lapang (Fieldtrip) Mahasiswa Agribisnis FEM IPB tanggal 25-26 Januari 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peluang Agribisnis Melon


Produksi buah tropika nusantara terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, pada tahun 2007 produksi buah Indonesia sebesar 17.116.622 ton atau naik sekitar 4,18 % bila dibandingkan dengan produksi tahun 2008 sebesar 17.831.252 ton, Volume ekspor total untuk mangga, manggis dan jambu biji dipasar dunia mencapai 1.178.810 ton dalam tahun 2005. Indonesia berkontribusi sebesar 1.760 ton atau 0,15 persen dari ekspor total dunia. Impor total dunia untuk ketiga komoditas tersebut mencapai 857.530 ton dan untuk Indonesia hanya sebesar 540 ton atau sekitar 0,06 persen (FAO, 2007).  Sedangkan untuk tahun 2008 volume ekspor buah meningkat sebesar 105,50% dibanding tahun sebelumnya yaitu 32.389 ton dengan nilai US $ 234.867.444. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil buah tropis yang memiliki keanekaragaman dan keunggulan cita rasa yang cukup baik bila  dibandingkan dengan buah-buahan dari negara-negara penghasil buah tropis lainnya. Komoditas buah-buahan tropis memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pembangunan agribisnis buah-buahan tropika.
Agribisnis merupakan sebuah kegiatan bisnis yang berbasiskan pertanian, dimulai dari proses hulu hingga jasa dan pelayanan. Agribisnis merupakan sebuah sistem yang saling terintegrasi antar subsistemnya. Salah satu komoditi agribisis dari buah-buahan yang berkembang di Indonesia adalah melon. Melon merupakan buah-buahan semusim yang kini berkembang sebagai salah satu komoditas unggulan hortikultura. Buah melon mempunyai nilai ekonomis dan prospek untuk dikembangkan sehingga diperlukan penanganan yang intensif dalam budidayanya. Komoditas ini cukup banyak diminati, selain rasanya enak juga mempunyai harga yang relatif tinggi baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Disamping itu, budidaya melon berumur pendek, kurang lebih dalam jangka 3 bulan sudah dapat menghasilkan dan harga buahnya relatif stabil. Sebelum tahun 1990, melon masih asing bagi penduduk Indonesia, tetapi kini sudah menjadi buah "pencuci mulut" yang populer. Buah ini sering disuguhkan di tempat-tempat pesta secara sendiri atau bersama dengan semangka, pepaya, dan nanas.
Melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman buah termasuk famili Cucurbitaceae. Banyak yang menyebutkan buah melon berasal dari Lembah Panas Persia atau daerah Mediterania yang merupakan perbatasan antara Asia Barat dengan Eropa dan Afrika. Tanaman ini akhirnya tersebar luas ke Timur Tengah dan ke Eropa. Pada abad ke-14 melon dibawa ke Amerika oleh Colombus dan akhirnya ditanam luas di Colorado, California, dan Texas. Akhirnya melon tersebar keseluruh penjuru dunia terutama di daerah tropis dan subtropis termasuk Indonesia. Sebelum tahun 1980, buah melon hadir di Indonesia sebagai buah impor. Kemudian banyak perusahaan agribisnis yang mencoba menanam melon untuk dibudidayakan di daerah Cisarua (Bogor) dan Kalianda (Lampung) dengan varietas melon dari Amerika, Taiwan, Jepang, Cina, Perancis, Denmark, Belanda dan Jerman. Kemudian melon berkembang di daerah Ngawi, Madiun, Ponorogo sampai wilayah eks-keresidenan Surakarta (Sragen, Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar dan Klaten). Daerah-daerah tersebut merupakan pemasok buah melon terbesar dibandingkan dengan daerah asal melon pertama.
Permintaan terhadap buah melon sangat besar dan semakin meningkat. Besarnya permintaan buah melon tergambar dari data Pasar Induk Kramat Jati (PIJK). Diungkapkan S. Margono, Ketua Koperasi Pasar (Koppas) Kramatjati, dalam sehari PIJK memerlukan minimal 2.700 ton buah-buahan. Jenis buah yang permintaannya terus meningkat salah satunya adalah melon. Jumlah pedagang melon di PIJK sekitar 30 orang. Jika tiap orang mampu menjual 6 ton, maka tak kurang dari 180 ton melon per hari ludes dibeli. “Harga melon Rp 4.500 per kg. Jadi, nilai uang untuk melon di PIKJ dalam sehari adalah Rp 810 juta atau Rp 24,3 miliar per bulan,(Data Agrina). Dua tahun terakhir harga melon cukup bagus dan stabil. Melon jenis Action kisaran harganya antara Rp 3.500-4.500 per kg, setiap hari berhasil menjual melon 14 ton atau setara Rp 500juta.
Nilai ekspor buah-buahan Indonesia ke sejumlah negara di Asia, khususnya ASEAN dan Timur Tengah dalam setahunnya mencapai 240 juta dolar AS, komoditas buah-buahan unggulan yang punya pasar di luar negeri salah satunya adalah melon yang saat ini tinggi permintaan dari sejumlah negara ke Malaysia, Singapura dan Hongkong. Walaupun buah-buahan jenis tanaman semusim seperti melon, semangka, dsb tersedia sepanjang tahun tetapi tetap ada fluktuasi yang nyata. Buah-buahan yang terdapat di Indonesia dipetik pada saat buah tua sekali (over ripe) maka setelah diperam akan menghasilkan buah dengan cita rasa dan aroma yang extra ordinary, namun sayangnya daya simpan buah-buahan tersebut sangat rendah. Selain itu, buah-buahan di Indonesia saat ini belum memiliki standarisasi mutu dan kemasan, sehingga tidak dipungkiri kondisi ini mampu menyebabkan kerugian bagi pihak petani produsen maupun konsumen sendiri. Sementara perdagangan komoditas buah impor memiliki modal yang kuat dan menawarkan citra buah-buahan yang lebih bermutu dengan harga yang bersaing. Strategi lain dalam menyiasati usaha pada komoditas pertanian buah-buahan adalah seyogianya kita mampu menganalisa perilaku pedagang, konsumen maupun retailer besar buah-buahan di Indonesia.


Aspek Budidaya

Tanaman melon lebih senang tumbuh di dataran menengah yang suhunya agak dingin, yakni pada ketinggian tempat antara 300-l.000 m dpl. Di dataran rendah yang elevasinya kurang dari 300 m dpl, buah melon berukuran lebih kecil dan dagingnya agak kering (kurang berair). Jenis tanah andosol atau tanah berpasir baik untuk pengembangan melon. Tanah ini mempunyai pH 6-7. Daerah yang bertipe iklim kering tidak disenangi oleh tanaman melon. Tanaman ini tidak toleran terhadap tanah asam (pH rendah) seperti pada semangka. Pada tanah yang ber-pH asam, tanaman melon akan tumbuh kerdil. Tanaman melon lebih peka terhadap air tanah yang menggenang atau kondisi aerasi tanah kurang baik daripada tanaman semangka. Di tempat yang kelembapan udaranya rendah (kering) dan ternaungi, tanaman melon enggan berbunga betina. Tanaman ini lebih senang di daerah terbuka, tetapi sinar matahari tidak terlalu terik, cukup dengan penyinaran 70%.
Sebelum melakukan budidaya melon maka hal penting yang harus dilakukan oleh petani adalah menyediakan benih melon berkualitas baik. Benih yang digunakan sebaiknya adalah benih asli (F1 hibrid). Setelah persiapan benih selesai maka selanjutnya adalah persiapan penyemaian. Benih melon yang disemaikan menggunakan media berupa campuran tanah, sekam dan kompos. Jika tanaman sudah siap untuk dipindahkan maka dilakukan pengolahan lahan tanam. Pengolahan lahan tanam termasuk didalanya yaitu pengukuran pH tanah, penentuan luas lahan, pembukaan lahan menakup pembajakan dan pencangkulan lahan, membuat bedengan, pengapuran dan pemasangan musa plastik hitam-perak. Setelah itu benih yang sudah disemaikan dipindah ke media tanam. Dalam masa pemeliharaan tanaman, tanaman melon harus dijaga dari serangan hama dan penyakit tanaman yaitu dengan memberikan pestisida, herbisida, ataupun fungisida. Fungisida yang sering dipake adalah Previcur N dan Derasol 500 SC. Namun tak kalah penting adlah pemberian pupuk seara rutin kepada tanaman melon supaya produktifitas melon meningkat. Jenis pupuk yang digunakan yaitu pupuk kompos, urea, TSP, dan KCL.
Jenis-jenis melon yang terkenal adalah: melon Christianism (1850); melon Sill Hybrid (1870); melon Surprise (1876); melon Ivondequoit, Miller Cream, Netted Gem, Hacken Sack dan Osage (1881–1890); melon Honey Rock dan Improved Perfecto (1933); melon Imperial (1935); melon Queen of Colorado dan Honey Gold (1939). Untuk memudahkan sistem penanaman dan pengelompokan melon, para ahli mengklasifikasikan melon dalam dua tipe, yaitu:

1.      Tipe Netted-Melon
a.       Ciri-iri: kulit buah keras, kasar,berurat dan bergambar seperti jala (net) ; aroma relatif lebih harum dibanding dengan winter–melon; lebih cepat masak antara 75–90 hari; awet dan tahan lama untuk disimpan.
b.      Varietas: (1) Cucumis melo var. reticulatus, buah kecil, berurat seperti jala dan harum.; (2) Cucumis melo var. cantelupensis, buah besar, kulit bersisik dan harum.

2.      Tipe Winter-Melon
a.       Ciri-ciri: kulit buah halus, mengkilat dan aroma buah tidak harum; buah lambat untuk masak antara 90–120 hari; mudah rusak dan tidak tahan lama untuk disimpan; tipe melon ini sering digunakan sebagai tanaman hias.
b.      Varietas: (1) Cucumis melo var. inodorous, kulit buah halus, buah memanjang dengan diameter 2,5–7,5 cm; (2) Cucumis melo var. flexuosus, permukaan buah halus, buah memanjang antar 35–70 cm; (3) Cucumis melo var. dudain, ukuran kecil-kecil, sering untuk tanaman hias; (4) Cucumis melo var. chito, ukuran buah sebesar jeruk lemon, sering digunakan sebagai tanaman hias.

Aspek Ekonomi

Untuk menanam 4.000 batang, menyiapkan dana Rp8 juta. Dengan bobot per buah 2 kg dan harga jual Rp2.300 per kg, keuntungan bersih Rp10 jutaan. Ditjen Hortikultura, Deptan, mencatat perkembangan produksi melon cukup signifikan. Pada 2007 terjadi peningkatan 120% produksi melon dibandingkan tahun 2000 atau 15,47%. Pada 2006, produksinya mencapai 55.000 ton, sedangkan tahun lalu naik menjadi 59.000 ton.Sentra produksi melon didominasi oleh Jatim dengan daerah lumbung, seperti Ngawi, Madiun, Banyuwangi, Nganjuk, Lamongan, dan Jember. Di luar itu ada Lampung, Sulsel, dan Banten, khususnya kota Cilegon dan Serang sebagai sentra baru. Budidaya melon menjadi salah satu solusi usaha masyarakat. Selain masa budidaya singkat, hanya dua bulan, harga jualnya juga cukup menggiurkan. Sampai saat ini sudah terhimpun 90 orang petani di daerah Cilegon, Serang, dan Tangerang di bawah binaan Krakatau Steel. Awalnya, pembinaan dilakukan di kelas, kini petani mengaplikasikannya di lapangan. Petani dibagi menjadi 18 kelompok dan penanaman dijadwal bergilir agar kontinunitas panen terjaga. Hasilnya, setiap minggu diangkut 5 ton melon.
Mengusahakan melon menghadirkan keuntungan berlipat. Dalam satu hektar lahan dapat menghasilkan buah melon sebanyak 3000 populasi dengan rata-rata hasil per pohon 2,25 kg. Maka dalam satu hektar mampu menghasilkan mencapai 6750 kg buah melon. Harga per kg melon rata-rata Rp 4500,00 maka dalam satu hektar total penerimaan untuk satu kali panen mencapai Rp 30 juta. Sedangkan biaya produksi hanya mencapai Rp 22 juta maka keuntungan bersih yang diperoleh petani bisa mencapai Rp 8 juta dalam satu kali panen.
Tanaman melon merupakan salah satu tanaman prioritas utama yang perlu mendapatkan perhatian diantara tanaman-tanaman hortikultura. Buah melon mempunyai harga yang relatif lebih tinggi dibanding tanaman hortikultura pada umumnya. Hal ini memberi banyak keuntungan kepada petani atau pengusaha pertanian tanaman melon. Agribisnis melon harus dilakukan secara cermat dan tetap selalu waspada. Walau berdasarkan analisis budidaya agribisnis melon menunjukkan prospek yang menjanjikan, tapi suatu ketika penyemprotan tertunda atau hal-hal sepele lainnya tidak diperhatikan maka keuntungan yang sudah dapat dibayangkan akan menjadi sirna seketika. Di era perdagangan menuju pasar bebas seperti saat ini, persaingan semakin ketat. Perlu dicarikan pasar khusus untuk dapat mendongkrak harga jual. Buah yang berkualitas tinggi yang ditawarkan akan layak mendapatkan harga jual yang tinggi pula. Informasi harga pasar dicari sebanyak-banyaknya sebelum panen berlangsung. Rantai tata niaga dipelajari seteliti mungkin, diusahakan rantai terpendek untuk mendapatkan harga jual tertinggi.

Sumber: 
Hefriyandi.2009. Laporan Pengantar Ilmu Pertanian Budidaya Melon. http://one.indoskripsi.com/node/8191 ( diakses tanggal  19 November 2009)

Prihatman Kemal. 2000. Budidaya Melon. http://infopekalongan.com/content/view/50/1/ (diakses tanggal 19 November 2009)

Gambar:
http://teknis-budidaya.blogspot.com
http://inikabarku.blogspot.com
http://kabar-agro.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS